Terakhir diperbarui: 20 Oktober 2026
Rekonsiliasi QRIS dan EDC adalah proses mencocokkan penjualan non-tunai di laporan kasir (POS) dengan laporan settlement dari acquirer dan dana yang benar-benar masuk ke rekening bank, setelah dikurangi biaya MDR. Caranya: catat penjualan ke akun perantara (clearing) per kanal, hitung MDR per transaksi, lalu tutup akun perantara itu saat dana settlement masuk. Selisih yang tersisa adalah daftar yang harus diinvestigasi, bukan angka yang dibuang ke “beban lain-lain”.
Di bisnis retail, resto, dan coffee shop, porsi pembayaran QRIS dan kartu terus naik, tetapi banyak tim finance masih mencocokkannya dengan cara lama: total penjualan non-tunai di POS dibandingkan dengan total mutasi kredit di rekening koran, lalu selisihnya dianggap “potongan bank”. Cara ini menyembunyikan transaksi gantung, refund yang tidak tercatat, sampai dana yang memang belum ditransfer acquirer. Di artikel ini kami membahas akun yang perlu disiapkan, contoh jurnal lengkap, template tabel rekonsiliasi harian, dan dampak kebijakan MDR QRIS 0% untuk transaksi kecil yang berlaku sejak 1 Oktober 2026 terhadap cara Anda menghitung selisih.
Ringkasan Cepat
- Catat penjualan QRIS/EDC ke akun Piutang Settlement per acquirer, bukan langsung ke Bank.
- Cocokkan berdasarkan tanggal transaksi, bukan tanggal dana masuk; settlement akhir pekan biasanya masuk di hari kerja berikutnya.
- MDR dicatat sebagai beban dan dihitung per transaksi; sejak 1 Oktober 2026 transaksi QRIS sampai Rp100.000 tidak dikenai MDR, jadi persentase rata-rata tidak lagi akurat.
- Saldo akun perantara yang bersih (nol) setelah settlement adalah bukti rekonsiliasi selesai.
- Setiap selisih masuk daftar investigasi dengan penanggung jawab dan batas waktu, bukan langsung dihapus.
Apa Itu Rekonsiliasi QRIS dan EDC?
Daftar Isi
- 1 Apa Itu Rekonsiliasi QRIS dan EDC?
- 2 Mengapa Total Settlement Hampir Tidak Pernah Sama dengan Laporan Kasir?
- 3 Akun Apa yang Perlu Disiapkan di Bagan Akun?
- 4 Bagaimana Contoh Jurnal Penjualan QRIS, EDC, dan Biaya MDR?
- 5 Bagaimana Langkah Rekonsiliasi QRIS dan EDC Harian?
- 6 Contoh Kasus: Coffee Shop Tiga Outlet di Bandung
- 7 Kesalahan yang Sering Terjadi
- 8 Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- 9 Rekonsiliasi QRIS dan EDC Lebih Cepat dengan Sistem yang Terhubung
Rekonsiliasi QRIS dan EDC adalah prosedur kontrol kas yang membandingkan tiga sumber data: transaksi non-tunai di POS, laporan settlement dari penyedia jasa pembayaran (acquirer), dan mutasi rekening bank. Tujuannya memastikan setiap rupiah penjualan non-tunai benar-benar diterima, biaya MDR sesuai kontrak, dan setiap selisih bisa ditelusuri ke transaksi tertentu.
Berbeda dengan rekonsiliasi bank biasa yang membandingkan buku kas dengan rekening koran, rekonsiliasi ini punya satu lapisan tambahan: acquirer. Dana tidak berpindah langsung dari pelanggan ke rekening Anda; dana dikumpulkan acquirer, dipotong MDR (Merchant Discount Rate), lalu ditransfer sesuai jadwal settlement. Karena itu satu baris mutasi bank sering mewakili ratusan transaksi kasir dari satu atau beberapa hari.
Mengapa Total Settlement Hampir Tidak Pernah Sama dengan Laporan Kasir?
Selisih antara POS dan rekening bank hampir selalu ada. Yang membedakan tim finance yang rapi adalah kemampuan menjelaskan selisih itu per penyebab. Berikut penyebab yang paling sering kami temui:
| Penyebab selisih | Gejala | Cara membuktikan |
|---|---|---|
| Potongan MDR | Dana masuk lebih kecil dari penjualan | Laporan settlement acquirer per transaksi (gross, MDR, net) |
| Perbedaan waktu (timing) | Penjualan Jumat–Minggu masuk sekaligus di hari kerja berikutnya | Tanggal transaksi vs tanggal settlement di laporan acquirer |
| Batas jam (cut-off) acquirer | Transaksi menjelang tengah malam masuk ke settlement hari berikutnya | Jam transaksi di POS vs periode settlement acquirer |
| Salah pilih metode bayar di POS | QRIS tercatat sebagai debit, atau non-tunai tercatat tunai | Cocokkan nominal dan jam ke laporan per kanal |
| Refund atau void tidak sinkron | Transaksi dibatalkan di POS tetapi tetap ada di settlement, atau sebaliknya | Daftar void POS vs daftar refund di portal merchant |
| Transaksi gantung (pending) | Pelanggan sudah terdebit, tetapi status di acquirer belum sukses | Status transaksi di portal merchant |
| Transaksi ganda (double) | Satu struk, dua transaksi EDC | Nomor approval/referensi yang sama atau berdekatan |
Tabel ini juga bisa Anda jadikan kolom “kode penyebab” di template rekonsiliasi, sehingga laporan selisih bulanan bisa diringkas per penyebab, bukan sekadar total rupiah.
Akun Apa yang Perlu Disiapkan di Bagan Akun?
Kunci rekonsiliasi yang bisa diaudit adalah akun perantara (clearing account). Kami menyarankan struktur berikut:
- Piutang Settlement – QRIS (per acquirer): menampung penjualan QRIS gross sampai dana masuk.
- Piutang Settlement – EDC Debit dan Piutang Settlement – EDC Kredit: dipisah karena tarif MDR dan jadwal settlement-nya bisa berbeda.
- Beban MDR / Beban Administrasi Pembayaran: biaya yang dipotong acquirer.
- Selisih Settlement dalam Investigasi: akun sementara untuk selisih yang belum diketahui penyebabnya. Saldonya harus ditinjau setiap tutup buku.
Jika Anda punya banyak outlet, tambahkan dimensi cabang atau outlet pada akun perantara. Dengan begitu selisih di satu outlet tidak tertutup oleh kelebihan di outlet lain.
Bagaimana Contoh Jurnal Penjualan QRIS, EDC, dan Biaya MDR?
Contoh berikut memakai sebuah coffee shop (contoh) dengan penjualan non-tunai pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Tarif MDR di bawah ini adalah contoh; tarif sebenarnya mengikuti ketentuan Bank Indonesia dan kontrak Anda dengan acquirer.
| Kanal | Penjualan gross (Rp) | Tarif MDR (contoh) | MDR (Rp) | Net diterima (Rp) |
|---|---|---|---|---|
| QRIS, transaksi ≤ Rp100.000 (180 trx) | 9.250.000 | 0% | 0 | 9.250.000 |
| QRIS, transaksi > Rp100.000 (30 trx) | 5.500.000 | 0,7% | 38.500 | 5.461.500 |
| EDC debit | 6.200.000 | 1% | 62.000 | 6.138.000 |
| EDC kredit | 4.800.000 | 2% | 96.000 | 4.704.000 |
| Total | 25.750.000 | 196.500 | 25.553.500 |
1. Jurnal saat penjualan (17 Oktober)
| Akun | Debit (Rp) | Kredit (Rp) |
|---|---|---|
| Piutang Settlement – QRIS | 14.750.000 | |
| Piutang Settlement – EDC Debit | 6.200.000 | |
| Piutang Settlement – EDC Kredit | 4.800.000 | |
| Penjualan | 25.750.000 |
Pendapatan diakui sebesar nilai penuh yang dibayar pelanggan. MDR bukan potongan harga kepada pelanggan, melainkan biaya jasa yang Anda bayar ke penyedia jasa pembayaran, sehingga dicatat terpisah sebagai beban. Agar fokus pada mekanisme settlement, contoh ini tidak memasukkan unsur pajak.
2. Jurnal saat dana settlement masuk (19 Oktober, Senin)
| Akun | Debit (Rp) | Kredit (Rp) |
|---|---|---|
| Bank | 25.553.500 | |
| Beban MDR | 196.500 | |
| Piutang Settlement – QRIS | 14.750.000 | |
| Piutang Settlement – EDC Debit | 6.200.000 | |
| Piutang Settlement – EDC Kredit | 4.800.000 |
Setelah jurnal kedua, saldo ketiga akun Piutang Settlement untuk tanggal transaksi 17 Oktober menjadi nol. Jika tidak nol, sisanya adalah selisih yang harus dijelaskan.
Apa dampak MDR QRIS 0% untuk transaksi kecil terhadap rekonsiliasi?
Menurut Bank Indonesia, mulai 1 Oktober 2026 MDR QRIS 0% berlaku untuk transaksi sampai Rp100.000 di semua kategori merchant, dan untuk usaha mikro sampai Rp500.000. BI juga menegaskan MDR ditanggung merchant dan tidak boleh dibebankan kepada konsumen.
Dampaknya untuk tim finance cukup besar. Banyak template lama menghitung “MDR wajar” dengan mengalikan total penjualan QRIS dengan satu persentase. Pada contoh di atas, cara lama memberi angka 0,7% × Rp14.750.000 = Rp103.250, padahal MDR yang benar hanya Rp38.500. Selisih Rp64.750 itu bisa salah dianggap “kelebihan dana” atau justru menutupi potongan yang tidak semestinya. Mulai sekarang, hitung MDR ekspektasi per transaksi, atau minimal per kelompok nominal, lalu bandingkan dengan MDR aktual di laporan settlement.
Bagaimana Langkah Rekonsiliasi QRIS dan EDC Harian?
- Tarik laporan POS per metode bayar untuk tanggal transaksi yang akan direkonsiliasi, lengkap dengan jam, nominal, dan nomor referensi.
- Unduh laporan settlement dari portal merchant setiap acquirer. Pastikan kolomnya memuat nilai gross, MDR, net, tanggal transaksi, dan tanggal settlement.
- Cocokkan POS dengan laporan acquirer per transaksi, memakai kombinasi nominal, jam, dan nomor referensi. Tandai transaksi yang hanya ada di salah satu sisi.
- Hitung MDR ekspektasi berdasarkan kontrak dan aturan nominal, lalu bandingkan dengan MDR aktual.
- Cocokkan total net dengan mutasi rekening bank. Satu mutasi bisa mewakili beberapa tanggal transaksi; pecah berdasarkan laporan settlement.
- Beri kode penyebab untuk setiap selisih (timing, MDR, salah metode bayar, void/refund, pending, ganda) dan tentukan penanggung jawab.
- Posting jurnal settlement dan pindahkan selisih yang belum terjelaskan ke akun Selisih Settlement dalam Investigasi.
- Tinjau umur selisih setiap minggu. Selisih yang lewat 30 hari perlu keputusan: klaim ke acquirer, koreksi penjualan, atau dihapus dengan persetujuan sesuai batas wewenang.
Template tabel rekonsiliasi harian
Template berikut bisa Anda salin ke spreadsheet atau dijadikan format laporan di sistem akuntansi. Contoh barisnya memakai skenario berbeda dari jurnal di atas: satu transaksi QRIS Rp70.000 masih berstatus pending di acquirer.
| Tgl transaksi | Outlet | Kanal | Gross POS | Gross acquirer | MDR ekspektasi | MDR aktual | Net acquirer | Mutasi bank | Selisih | Kode penyebab | PIC & tenggat |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 17/10 | Outlet A | QRIS | 14.750.000 | 14.680.000 | 38.500 | 38.500 | 14.641.500 | 14.641.500 | 70.000 | Pending | Kasir A, 21/10 |
| 17/10 | Outlet A | EDC Debit | 6.200.000 | 6.200.000 | 62.000 | 62.000 | 6.138.000 | 6.138.000 | 0 | – | – |
Kolom “Selisih” dihitung dari Gross POS dikurangi Gross acquirer. Dengan memisahkan selisih gross dan selisih MDR, Anda langsung tahu apakah masalahnya ada di transaksi atau di biaya.
Contoh Kasus: Coffee Shop Tiga Outlet di Bandung
Sebuah coffee shop (contoh) dengan tiga outlet di Bandung menerima sekitar 70% pembayaran lewat QRIS dan EDC. Selama ini staf finance hanya membandingkan total non-tunai di POS dengan total mutasi kredit bank setiap akhir bulan. Selisih bulanan rata-rata Rp1,2 juta selalu dibukukan sebagai beban bank.
Setelah beralih ke rekonsiliasi harian per transaksi selama satu bulan, tim menemukan rincian berikut (contoh): Rp640.000 berasal dari tujuh transaksi QRIS berstatus pending yang ternyata sudah sukses dan masuk di settlement berikutnya, Rp380.000 dari dua refund yang dilakukan di portal merchant tanpa void di POS, dan hanya Rp180.000 yang benar-benar merupakan selisih MDR karena tarif kartu kredit berbeda dari kontrak. Hasilnya, beban yang selama ini “hilang” ternyata sebagian besar adalah kesalahan proses yang bisa diperbaiki, dan tim bisa mengajukan klaim tarif ke acquirer dengan data yang lengkap.
Kesalahan yang Sering Terjadi
- Mencatat penjualan non-tunai langsung ke akun Bank. Saldo bank di buku jadi lebih besar dari rekening koran selama dana belum masuk, dan rekonsiliasi bank ikut kacau.
- Mencocokkan berdasarkan tanggal dana masuk. Penjualan akhir pekan dan transaksi menjelang tengah malam akan selalu tampak selisih.
- Mencatat penjualan net setelah MDR. Pendapatan jadi lebih kecil dan beban MDR tidak terlihat di laporan laba rugi, sehingga manajemen tidak bisa menilai biaya kanal pembayaran.
- Memakai satu persentase MDR rata-rata padahal aturan MDR QRIS sekarang berbeda menurut nominal transaksi.
- Menghapus selisih tanpa investigasi. Kebiasaan ini membuka celah kecurangan, misalnya refund fiktif atau penerimaan yang dialihkan.
- Tidak memisahkan akun per acquirer dan per outlet. Kelebihan di satu kanal menutupi kekurangan di kanal lain.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Apakah MDR QRIS boleh dibebankan ke pelanggan?
Tidak. Bank Indonesia menyatakan MDR ditanggung merchant dan tidak boleh dibebankan kepada konsumen. Karena itu, dalam pembukuan MDR dicatat sebagai beban usaha Anda, bukan sebagai tambahan tagihan kepada pelanggan.
Akun apa yang dipakai untuk penjualan QRIS yang dananya belum masuk?
Gunakan akun perantara seperti Piutang Settlement – QRIS, dipisah per acquirer dan bila perlu per outlet. Akun ini didebit saat penjualan dan dikredit saat dana settlement masuk. Saldo yang tersisa menunjukkan dana yang masih dalam perjalanan atau selisih yang perlu diselidiki.
Seberapa sering rekonsiliasi QRIS dan EDC sebaiknya dilakukan?
Idealnya harian, atau minimal setiap kali dana settlement masuk. Rekonsiliasi harian membuat selisih masih mudah ditelusuri karena kasir masih ingat transaksinya dan bukti di portal merchant masih mudah dicari. Rekonsiliasi bulanan tetap perlu sebagai review akhir saat tutup buku.
Bagaimana mencatat selisih yang tidak bisa dijelaskan?
Pindahkan dulu ke akun Selisih Settlement dalam Investigasi, lengkap dengan kode penyebab dan penanggung jawab. Setelah batas waktu investigasi lewat, selisih bisa diklaim ke acquirer, dikoreksi ke penjualan, atau dihapus sebagai beban dengan persetujuan pejabat yang berwenang.
Rekonsiliasi QRIS dan EDC Lebih Cepat dengan Sistem yang Terhubung
Rekonsiliasi QRIS dan EDC yang rapi bertumpu pada tiga hal: akun perantara per kanal, perhitungan MDR per transaksi, dan pencocokan berdasarkan tanggal transaksi. Dengan template di atas, selisih yang selama ini tenggelam sebagai “potongan bank” berubah menjadi daftar tindakan yang jelas. Untuk memperkuat proses ini, gabungkan rekonsiliasi harian dengan checklist tutup buku bulanan, terapkan pola yang sama pada rekonsiliasi antar cabang bila Anda memiliki banyak outlet, dan pakai hasilnya sebagai dasar proyeksi arus kas 13 minggu agar dana yang masih tertahan di acquirer ikut terhitung.
Jika tim Anda masih menyalin data POS dan rekening koran ke Excel setiap pagi, fitur kas & bank Zahir Online membantu mencatat penerimaan, memisahkan akun per rekening, dan menyiapkan rekonsiliasi bank dari satu tempat, sehingga waktu tim bisa dipakai untuk menyelidiki selisih, bukan merekap angka.














