Terakhir diperbarui: 22 Oktober 2026
Landed cost adalah total biaya sampai barang impor tiba dan siap dijual di gudang Anda: harga beli ditambah ongkos kirim, asuransi, bea masuk, biaya pelabuhan, jasa PPJK, dan angkutan ke gudang. Cara menghitungnya: kumpulkan semua biaya yang dapat diatribusikan langsung, alokasikan ke tiap SKU dengan dasar yang paling mencerminkan pemicu biayanya (nilai, berat, atau volume), lalu bagi dengan jumlah unit. Hasilnya menjadi biaya perolehan persediaan, bukan beban periode.
Masalahnya, di banyak perusahaan distribusi dan trading, biaya impor masih dibagi rata per unit atau langsung dibebankan ke biaya operasional. Akibatnya HPP per SKU meleset, margin produk berukuran besar tapi murah tampak lebih tebal dari kenyataan, dan auditor menemukan selisih saat menguji biaya perolehan persediaan. Di artikel ini kami membahas komponen yang boleh dan tidak boleh masuk landed cost, matriks pemilihan dasar alokasi, contoh perhitungan satu kontainer berisi tiga SKU, jurnal lengkap dari barang dalam perjalanan sampai selisih kurs, serta cara menangani tagihan susulan yang datang setelah barang terjual.
Ringkasan Cepat
- Landed cost = harga beli + biaya yang dapat diatribusikan langsung untuk membawa barang ke lokasi dan kondisi siap jual (PSAK 202 Persediaan, dahulu PSAK 14).
- Pajak yang dapat dikreditkan atau ditagih kembali (misalnya PPN impor yang dikreditkan) tidak masuk landed cost.
- Pilih dasar alokasi sesuai pemicu biaya: freight per volume, trucking per berat, asuransi per nilai, bea masuk langsung per pos dokumen impor.
- Selisih kurs saat pelunasan utang impor diakui di laba rugi, bukan ditambahkan ke persediaan.
- Gunakan akun “Persediaan dalam Perjalanan” sebagai penampung sampai semua biaya utama terkumpul.
Apa itu landed cost dalam akuntansi persediaan?
Daftar Isi
- 1 Apa itu landed cost dalam akuntansi persediaan?
- 2 Biaya apa saja yang masuk dan tidak masuk landed cost?
- 3 Bagaimana memilih dasar alokasi biaya impor ke tiap SKU?
- 4 Contoh perhitungan landed cost satu kontainer
- 5 Bagaimana jurnal landed cost dari pembelian sampai pelunasan?
- 6 Langkah praktis menghitung landed cost setiap kedatangan barang
- 7 Kesalahan yang Sering Terjadi
- 8 Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- 9 Kesimpulan
Definisi singkat: landed cost (biaya pendaratan) adalah seluruh biaya perolehan persediaan impor sampai barang tiba di lokasi dan kondisi siap dijual, terdiri dari harga beli, bea masuk, pajak yang tidak dapat ditagih kembali, ongkos angkut, asuransi, penanganan, dan biaya lain yang dapat diatribusikan langsung, dikurangi diskon dagang dan rabat. Nilai ini menjadi dasar HPP per unit.
Prinsip ini sejalan dengan PSAK 202 Persediaan (penomoran baru PSAK 14 sejak 1 Januari 2024 menurut Ikatan Akuntan Indonesia). Biaya pembelian meliputi harga beli, bea impor, pajak lainnya kecuali yang dapat ditagih kembali, biaya pengangkutan, penanganan, dan biaya lain yang dapat diatribusikan langsung, dikurangi diskon dagang dan rabat. Entitas yang memakai SAK EP (berlaku 1 Januari 2025, menggantikan SAK ETAP) juga mengukur persediaan pada biaya perolehan dengan komponen serupa.
Biaya apa saja yang masuk dan tidak masuk landed cost?
Bagian ini paling sering menjadi temuan audit. Gunakan tabel berikut sebagai daftar periksa saat menerima tagihan dari forwarder, PPJK, dan pelabuhan.
| Komponen biaya | Masuk landed cost? | Catatan |
|---|---|---|
| Harga beli di invoice supplier (setelah diskon dagang) | Ya | Dikonversi dengan kurs pada tanggal transaksi |
| Ocean/air freight dan asuransi pengiriman | Ya | Jika syarat pembelian FOB/FCA, biaya ini ditanggung pembeli |
| Bea masuk | Ya | Bukan pajak yang dapat dikreditkan |
| PPN impor yang dapat dikreditkan | Tidak | Dicatat sebagai PPN Masukan |
| PPh Pasal 22 impor | Tidak | Dicatat sebagai pajak dibayar di muka (kredit pajak) |
| THC, biaya dokumen, jasa PPJK, lift on/off | Ya | Biaya penanganan yang dapat diatribusikan langsung |
| Trucking pelabuhan ke gudang | Ya | Membawa barang ke lokasi siap jual |
| Demurrage/storage pelabuhan karena dokumen terlambat | Umumnya tidak | Pemborosan tidak normal, akui sebagai beban |
| Sewa gudang setelah barang diterima | Tidak | Biaya penyimpanan, beban periode |
| Gaji staf purchasing dan administrasi impor | Tidak | Overhead administrasi umum |
| Selisih kurs saat pelunasan utang | Tidak | Diakui di laba rugi (PSAK 221) |
Satu catatan kebijakan: untuk demurrage, tetapkan batas yang jelas di kebijakan akuntansi. Demurrage yang memang lazim terjadi pada rute tertentu bisa dianggap normal, sedangkan yang timbul karena kelalaian dokumen diakui sebagai beban. Konsistensi lebih penting daripada pilihan mana yang diambil.
Bagaimana memilih dasar alokasi biaya impor ke tiap SKU?
Satu kontainer jarang berisi satu jenis barang. Jika semua biaya tambahan dibagi berdasarkan nilai barang atau rata per unit, SKU yang murah tapi memakan tempat akan mendapat beban terlalu kecil. Pilih dasar alokasi sesuai apa yang sebenarnya memicu biaya.
| Jenis biaya | Dasar alokasi yang disarankan | Alasan |
|---|---|---|
| Ocean freight (FCL/LCL) | Volume (m³) | Tarif kontainer/LCL ditentukan ruang yang dipakai |
| Air freight | Berat tertagih (chargeable weight) | Maskapai menagih berdasarkan berat aktual atau volumetrik |
| Asuransi kargo | Nilai barang | Premi dihitung dari nilai pertanggungan |
| Bea masuk | Langsung per pos barang di dokumen impor (PIB) | Bea masuk dihitung per pos tarif (HS code), jadi bisa dibebankan spesifik |
| THC, PPJK, biaya dokumen | Volume atau jumlah koli | Penanganan mengikuti fisik muatan |
| Trucking ke gudang | Berat | Kapasitas truk dibatasi tonase |
Contoh perhitungan landed cost satu kontainer
Contoh berikut menggunakan angka fiktif. PT Sinar Niaga, distributor suku cadang di Surabaya, mengimpor satu kontainer berisi tiga SKU dengan syarat FOB. Kurs pada tanggal transaksi (contoh) Rp16.000 per USD.
| SKU | Unit | Harga FOB (USD) | Nilai (Rp) | Berat (kg) | Volume (m³) |
|---|---|---|---|---|---|
| A – Filter oli | 1.000 | 10.000 | 160.000.000 | 2.000 | 8 |
| B – Pompa air | 500 | 20.000 | 320.000.000 | 1.000 | 4 |
| C – Selang karet | 2.000 | 10.000 | 160.000.000 | 3.000 | 16 |
| Total | 3.500 | 40.000 | 640.000.000 | 6.000 | 28 |
Biaya tambahan (contoh): ocean freight dan asuransi Rp36.000.000 (dialokasikan per volume), THC dan jasa PPJK Rp12.000.000 (per volume), trucking ke gudang Rp6.000.000 (per berat), serta bea masuk Rp32.000.000 yang menurut PIB terdiri dari Rp8.000.000 untuk SKU A, Rp16.000.000 untuk SKU B, dan Rp8.000.000 untuk SKU C.
| SKU | Freight & asuransi | THC & PPJK | Trucking | Bea masuk | Total landed cost | Per unit |
|---|---|---|---|---|---|---|
| A | 10.285.714 | 3.428.571 | 2.000.000 | 8.000.000 | 183.714.286 | 183.714 |
| B | 5.142.857 | 1.714.286 | 1.000.000 | 16.000.000 | 343.857.143 | 687.714 |
| C | 20.571.429 | 6.857.143 | 3.000.000 | 8.000.000 | 198.428.571 | 99.214 |
| Total | 36.000.000 | 12.000.000 | 6.000.000 | 32.000.000 | 726.000.000 | – |
Sekarang bandingkan dengan cara pintas, yaitu membagi seluruh biaya tambahan Rp86.000.000 berdasarkan nilai barang. Landed cost per unit SKU B menjadi Rp726.000 (terlalu tinggi 5,6%), sedangkan SKU C hanya Rp90.750 (terlalu rendah 8,5%). Jika selang karet dijual Rp110.000, margin kotornya tampak 17,5% padahal sebenarnya 9,8%. Tim sales bisa memberi diskon besar untuk SKU yang ternyata hampir tidak menguntungkan. Inilah alasan dasar alokasi bukan sekadar urusan teknis, melainkan menentukan keputusan harga.
Bagaimana jurnal landed cost dari pembelian sampai pelunasan?
Gunakan akun penampung “Persediaan dalam Perjalanan” (goods in transit) agar semua biaya terkumpul dulu sebelum dialokasikan ke kartu stok. Berikut urutan jurnal untuk contoh di atas.
| No. | Transaksi | Akun | Debit (Rp) | Kredit (Rp) |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Invoice supplier diterima, barang dikapalkan (FOB) | Persediaan dalam Perjalanan Utang Usaha (USD) |
640.000.000 | 640.000.000 |
| 2 | Tagihan freight & asuransi | Persediaan dalam Perjalanan Utang Forwarder |
36.000.000 | 36.000.000 |
| 3 | Pembayaran pungutan impor sesuai dokumen | Persediaan dalam Perjalanan (bea masuk) PPN Masukan PPh 22 Dibayar di Muka Bank |
32.000.000 sesuai dokumen sesuai dokumen |
total dibayar |
| 4 | THC, PPJK, dan trucking | Persediaan dalam Perjalanan Utang Usaha / Bank |
18.000.000 | 18.000.000 |
| 5 | Barang diterima di gudang, alokasi ke SKU | Persediaan – SKU A Persediaan – SKU B Persediaan – SKU C Persediaan dalam Perjalanan |
183.714.286 343.857.143 198.428.571 |
726.000.000 |
| 6 | Pelunasan utang USD 40.000 pada kurs (contoh) Rp16.200 | Utang Usaha (USD) Rugi Selisih Kurs Bank |
640.000.000 8.000.000 |
648.000.000 |
Perhatikan jurnal nomor 6. Rugi selisih kurs Rp8.000.000 tidak menambah nilai persediaan. Sesuai PSAK 221 Pengaruh Perubahan Kurs Valuta Asing, transaksi dicatat dengan kurs tanggal transaksi, dan selisih saat penyelesaian diakui di laba rugi. Jika utang belum dilunasi saat tutup buku, lakukan penjabaran ulang (revaluasi) saldo utang USD dengan kurs penutup.
Bagaimana jika tagihan biaya datang setelah barang terjual?
Ini kasus yang sangat umum: tagihan tambahan dari PPJK datang tiga minggu kemudian, ketika sebagian barang sudah keluar. Misalnya tagihan susulan Rp4.000.000 sepenuhnya terkait SKU C, dan 40% unit SKU C sudah terjual. Porsi untuk unit yang masih ada dikapitalisasi, porsi untuk unit yang sudah terjual langsung masuk HPP.
| Akun | Debit (Rp) | Kredit (Rp) |
|---|---|---|
| Persediaan – SKU C (60%) | 2.400.000 | |
| Harga Pokok Penjualan (40%) | 1.600.000 | |
| Utang Usaha – PPJK | 4.000.000 |
Jika jumlahnya tidak material, banyak perusahaan menetapkan ambang di kebijakan akuntansi agar tagihan susulan di bawah batas tertentu langsung dibebankan ke HPP. Tuliskan ambang itu secara eksplisit supaya auditor melihat konsistensi.
Langkah praktis menghitung landed cost setiap kedatangan barang
- Buka satu nomor shipment (atau nomor PO impor) sebagai kunci pengumpulan biaya.
- Catat invoice supplier ke Persediaan dalam Perjalanan dengan kurs tanggal transaksi.
- Kumpulkan setiap tagihan forwarder, PPJK, pelabuhan, dan trucking dengan referensi nomor shipment yang sama.
- Pisahkan pajak yang dapat dikreditkan dan biaya tidak normal sebelum alokasi.
- Ambil data berat dan volume dari packing list, dan nilai bea masuk per pos dari PIB.
- Alokasikan dengan dasar sesuai matriks di atas, lalu bagi per unit.
- Posting alokasi ke kartu stok saat barang diterima, lalu tutup saldo Persediaan dalam Perjalanan untuk shipment tersebut.
- Saat tutup buku, rekonsiliasi saldo Persediaan dalam Perjalanan per shipment dan revaluasi utang valas yang masih terbuka.
Saldo Persediaan dalam Perjalanan yang tidak pernah nol adalah tanda ada shipment yang belum dialokasikan. Masukkan pengecekan ini ke rekonsiliasi persediaan bulanan Anda.
Kesalahan yang Sering Terjadi
- Membebankan freight dan bea masuk ke biaya operasional. Laba bulan kedatangan barang tertekan, sementara HPP bulan berikutnya terlalu rendah.
- Memasukkan PPN impor yang dapat dikreditkan ke persediaan. Persediaan menggelembung dan PPN Masukan tidak terklaim.
- Alokasi rata per unit untuk barang yang ukurannya sangat berbeda. Margin SKU besar-murah terlihat lebih tebal dari kenyataan.
- Menambahkan rugi selisih kurs ke nilai persediaan. Bertentangan dengan PSAK 221.
- Tidak mengaitkan tagihan dengan nomor shipment. Tagihan susulan masuk ke shipment yang salah atau tercatat dua kali. Pencocokan dokumen seperti three way matching membantu mencegahnya.
- Lupa mengurangi rabat atau potongan supplier. Rabat volume dari pemasok mengurangi biaya perolehan, seperti dibahas di artikel jurnal rebate supplier.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Apa beda landed cost dan harga FOB?
Harga FOB adalah harga barang sampai dimuat di kapal di pelabuhan asal. Landed cost menambahkan semua biaya setelah itu, seperti freight, asuransi, bea masuk, biaya pelabuhan, dan angkutan ke gudang. Untuk menentukan harga jual dan HPP, yang dipakai adalah landed cost, bukan FOB.
Apakah PPN impor termasuk landed cost?
Tidak, jika PPN impor dapat dikreditkan sebagai Pajak Masukan oleh perusahaan Anda. PSAK 202 hanya memasukkan pajak yang tidak dapat ditagih kembali ke biaya perolehan. Jika perusahaan tidak dapat mengkreditkannya, PPN tersebut menjadi bagian biaya perolehan persediaan.
Kapan landed cost harus dialokasikan ke persediaan?
Idealnya saat barang diterima di gudang dan biaya utama sudah diketahui. Biaya yang belum ditagih bisa diakrualkan berdasarkan estimasi kontrak forwarder, lalu disesuaikan saat tagihan final datang. Dengan cara ini HPP sudah akurat sejak penjualan pertama.
Bagaimana jika satu shipment berisi barang dari beberapa PO?
Kumpulkan biaya di level shipment, lalu alokasikan ke baris barang dari setiap PO dengan dasar yang sama. Kunci referensinya adalah nomor shipment atau nomor dokumen impor, bukan nomor PO, agar tidak ada biaya yang teralokasi dua kali.
Apakah selisih kurs memengaruhi HPP barang impor?
Tidak secara langsung. Persediaan dicatat dengan kurs tanggal transaksi. Selisih kurs saat utang dilunasi atau direvaluasi di akhir periode diakui sebagai laba atau rugi selisih kurs di laporan laba rugi.
Kesimpulan
Landed cost yang benar dimulai dari tiga disiplin: memilah biaya yang boleh dikapitalisasi, memilih dasar alokasi sesuai pemicu biaya, dan mengumpulkan semua tagihan di bawah satu nomor shipment. Dari contoh kami, salah memilih dasar alokasi saja sudah membuat margin satu SKU tampak hampir dua kali lipat dari kenyataan. Lengkapi prosesnya dengan memasukkan pengecekan saldo Persediaan dalam Perjalanan ke checklist tutup buku bulanan.
Jika tim Anda masih menghitung alokasi biaya impor di Excel untuk setiap kedatangan barang, modul persediaan Zahir Online membantu mencatat pembelian, penerimaan barang, dan nilai stok per SKU dalam satu sistem sehingga HPP per produk bisa dipantau tanpa rekap ulang. Untuk perusahaan distribusi, lihat juga solusi Zahir Online untuk trading dan distribusi.
Referensi
- Ikatan Akuntan Indonesia – Perubahan Penomoran PSAK dan ISAK dalam SAK Indonesia (berlaku 1 Januari 2024)
- PSAK 202 Persediaan dan PSAK 221 Pengaruh Perubahan Kurs Valuta Asing, Standar Akuntansi Keuangan Indonesia, Ikatan Akuntan Indonesia
- Ikatan Akuntan Indonesia – SAK Indonesia untuk Entitas Privat (SAK EP)














